Friday, March 30, 2012

"LAPORAN PRAKTIKUM LAPANGAN MATA KULIAH PENGETAHUAN LINGKUNGAN"


LAPORAN PRAKTIKUM LAPANGAN
MATA KULIAH PENGETAHUAN LINGKUNGAN
 DI DESA KANREAPIA KECAMATAN TOMBOLOPAO KABUPATEN GOWA
Jumat-minggu, 17 s/d 19 Desember 2010




Oleh:

Heriyanto / Pend. Kimia
101304009


JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
JANUARI 2010


KATA PENGANTAR
       Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah swt atas berkat,rahmat, dan hidayah-Nya jualah sehingga penyusun dapat menyelesaikan “Laporan Lengkap Praktek Lapangan Mata Kuliah pengetahuan lingkungan di Desa Kanreapia Kecamatan Tombolopao Kabupaten Gowa” ini dan tak lupa pula kita kirimkan salam dan taslim kepada junjungan kita Nabiyullah Muhammad saw., beserta para keluarga, dan sahabat.
       Dalam penyusunan laporan ini penyusun tidak terlepas dari beberapa pihak  Oleh karena itu, kami mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya kepada ibunda dan ayahanda kami tercinta. Begitupun kepada Tim Dosen pengetahuan lingkungan beserta asisten-asistennya yang senantiasa mengajar dan membimbing penyusun dengan baik, serta semua pihak yang baik secara langsung maupun tidak langsung ikut memberikan sumbangsinya dalam penyelesaian laporan ini.
       Penyusun sadar  bahwa laporan ini masih jauh dari kesempurnaan seperti kata pepatah tak ada gadin yang yang tak retak, penyusun adalah manusia, oleh karna itu penyusun nantikan  kritik dan saran yang bersifat mendukung senangtiasa penyusun nantikan demi kesempurnaan laporan yang akan di susun pada kesempatan lain


                                                                                    Makassar,    Januari 2011
                                                                                                         

                                                                                                 Penyusun



DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR i
HALAMAN PENGESAHAN ii
DAFTAR ISI iii
DAFTAR TABEL iv
DAFTAR GAMBAR v
BAB I     PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang Praktikum 1   
B.       Rumusan Masalah 2   
C.       Tujuan praktikum 2   
D.      Manfaat Praktikum 2   
BAB II   KAJIAN PUSTAKA
A.    Lingkungan Hidup ………………………………………………3
B.     Ekologi dalam Lingkungan 8
C.     Permasalahan yang Timbul dari Kerusakan Lingkungan 10
D.    Hutan Hujan Tropis 15
BAB III METODE PELAKSANAAN PRAKTIKUM
A.       Lokasi Praktikum 23 
B.       Alasan Pemilihan Praktikum 23
C.       Waktu Pelaksanaan Praktikum 23 
D.       Alat dan Bahan 24
E.        Teknik Pelaksanaan Praktikum 24
F.        Teknik Pengambilan Data dan Teknik Analisis Data 25
BAB IV  HASIL DAN PEMBAHASAN
A.       Hasil  26
B.       Pembahasan 30

BAB V   PENUTUP 33
DAFTAR PUSTAKA 34
LAMPIRAN

BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang
        Lingkungan adalah salah satu faktor yang mepengaruhi kehidupan masyarakat sebab dalam kesehariannya masyarakat akan berinteraksi langsung dengan lingkungan, di Negara kita,Indonesia ini mempunyai banyak tempat-tempat yang sangat membantu dalam kelangsungan hidup masyarakatnya, seperti bendungan  Bili-bili yang berada di Makassar, kec. Paralloe.
       Tanggul bili-bili merupakan sumber air minum terbesar di Makasssar sekaligus sebagai sumber pembangkit listrik tenaga air. Disini kita akan mencari tahu sejarah, dampak positif, dampak negatif, dampak sosial ekonomi, resiko, prosfek kedepan tanggul bili-bili,  koserfasi agar tanggul tetap terjaga dan lingkungan tetap bersih serta mencari tahu apakah resiko dari tanggul bili-bili cukup mengamcam.  Selanjutnya ada pula tempat-tempat yang menjadi lahan untuk mendapatkan ekonomi tambahan dan pokok.
       Walaupun sekrang ini sudah tidak aktif  berproduksi, tapi ada perusahaan yang dulunya cukup memberikan sumber ekonomi tambahan dan juga memberikan pekerjaan kepada para pekerja yang dulunya pengangguran yakni perusahaan jamur. Disini kita akan mengamati sejarah, dampak positif, dampak negaif, dan dampak sosial ekonomi  serta dampak  limbah terhadap masyarakat dari perusahaan jamur. Selanjutnya kita akan pergi ke hutan pohon pinus. Disana kita akan mengamati ketinggian hutan pohon pinus dari permukaan laut dan fungsinya terhadap lingkungan sekitar. Dan  tempat terakhir kita menutup penelitian kita ini di kebun teh malino kec. Tinggi moncong, kab. Gowa.
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, perumusan masalah yang dapat diambil sebagai berikut:
1.           Bagaimana gambaran umum Desa Kanreapia Kecamatan Tombolo’ pao Kabupaten Gowa terkhusus pada lingkungannya?
2.           Bagaimana data tentang tingkat pendidikan, pekerjaan, pendapatan masyarakat di Desa Kanreapea?
C.    Tujuan penelitian
           Adapun tujuan dari penelitian inu adalah:
1.      Untuk mengetahui dampak positif dan negative yang munkin di timbulkan dari berbagai macam kegiatan manusia tehadap lingkungan sekitarnya.
2.      Untuk mencari terobosan masalah terhadap pencemaran lingkungan apat meningkatkan kerjasama mahasiswa.

D.    Manfaat penelitian
        Adapun manfaat dari penelitian ini adalah:
1.      Mahasiswa dapat mengetahui dampak positif dan negatif yang mungkin di timbulkan dari berbagai macam kegiatan manusia tehadap lingkungan sekitarnya serta mencari terobosan masalah terhadap pencemaran lingkungan apat meningkatkan kerjasama mahasiswa
2.      Mahasiswa dapat mengetahui bagaimana keadaan lingkungan disekitar Desa Kanreapia.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.   Lingkungan Hidup
             Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan dan makhluk hidup termasuk manusia dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup (UU RI No. 23 Tahun 1997) pada pengrtian ini tercantum dua kali kata manusia yakni manusia  sebagai subyek (manusia dan perilakunya) dan manusia sebagai obyek (yang akan terpengaruh). Perilaku manusia yang baik terhadap lingkungan, akan menghasilkan sesuatu yang baik pula bagi manusia (Leo, 2010).
Lingkungan adalah suatu system kompleks yang berada di luar individu yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan organisme. Lingkungan dan habitat tdaklah sama. Habitat adalah tempat di mana organisme atau komunitas organisme hidup (Zoer’aini, 1992).
Setiap organisme, hidup dalam lingkungannya masing-masing. Begitu jumlah dan kualitas organism penghuni disetiap habitat tidak sama. Faktor-faktor yang ada dalam lingkungan selain berinteraksi dengan organism juga berinteraksi sesama factor tersebut, sehingga sulit untuk memisahkan dan mengubahnya tanpa mempengaruhi bagian lain dari lingkungan itu. Oleh karena itu untuk dapat memahami struktur dan kegiatannya perlu dilakukan penggolongan factor-faktor lingkungan tersebut. Prnggolongan tersebut terbagi menjadi dua kategori yakni :
a.    Lingkungan abiotik sepperti  suhu, udara, cahaya, atmosfer, hara, mineral, air, tanah dan api.
b.    Lingkungan biotic yaitu makhluk-makhluk hidup di luar lingkungan abiotik (Zoer’aini, 1992).  
Manusia hidup di bumi tidak sendirian, melainkan bersama makhluk lain, yaitu tumbuhan, hewan dan jasad renik. Makhluk hidup yang lain itu bukanlah sekesdar kawan atau teman hidup manusia, melainkan hidup manusia terkait erat pada mereka. Tanpa mereka manusia tidaklah dapat hidup. Kenyataan ini dengan mudah dapat kita lihat dengan mengandaikan di bumi ini tidak ada tumbuhan dan hewan. Dari manakah kita mendapatkan oksigen dan makanan? Sebaliknya seandainya tidak ada manusia, tumbuhan, hewan dan jasad renik akan dapat melangsungkan  kehidupannya, seperti terlihat dari sejarah bumi sebelum ada manusia. Karena itu anggapan bahwa manusia adalah makhluk yang paling berkuasa sebenarnya tidaklah betul. Seyogyanya kita menyadari bahwa kitalah yang membutuhkan makhluk hidup yang lain untuk kelangsungan hidup kita dan bukannya mereka yang membutuhkan kita untuk kelangsungan hidupnya (Otto Soemarwoto).
Ruang lingkup peninjauan tentang lingkungan hidup dapat sempit, misalnya sebuah rumah dengan pekarangannya, atau luas, misalnya Pulau Irian. Lapisan bumi dan udara yang ada makhluknya, dapat juga dianggap sebagai suatu lingkungan hidup yang besar yaitu biosfer. Bahkan tatasurya kita atau malahan seluruh alam semesta dapat menjadi obyek tinjauan (Otto Soemarwoto)
Hubungan antara manusia dengan lingkungan hidupnya adalah sirkuler. Interaksi manusia denggan lingkungan hidupnya tidaklah sederhana mekainkan kompleks, karena pada umumnya dalam lingkungan hidup itu terdapat banyak unsure. Pengaruh terhadap unsure akan merambat pada unsure lain, sehingga pengaruhnya terhadap manusia sring tidak dapat dengan segera terlihat dan terasakan (Otto Soemarwoto).
Manusia berinteraksi dengan lingkungan hidupnya. Ia mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lingkungan hidupnya. Ia membentuk dan terbentuk oleh lingkungan hidupnya. Manusia seperti ia adanya, yaitu disebut fenotipe, keturunannya dengan faktor lingkungan (Otto Soemarwoto).
Jika kita menelusuri kembali sejarah peradaban manusia dibumi ini kita akan melihat adanya usaha dari manusia untuk menyempurnakan serta meningkatkan kesejahteraan hidupnya, demi kelangsungan hidup jenisnya. Sumber alam biotic mempunyai kemampuan memperbanyak diri atau bertambah. Misalkan tumbuhan dapat berkembang biak dengan biji atau spora, dan hewan-hewan menghasilkan keturunannya dengan telur atau melahirkan. Oleh karena itu sumber daya alam tersebut dikatakan sebagai sumber daya alam yang masih dapat diperbarui (Koentjaraningrat, 1987).
Lain halnya dengan sumber daya alam abiotik yang tidak dapat diperbarui dirinya. Bila sumber minyak, batu bara, atau bahan-bahan lainnya telah habis digunakan manusia, maka habislah bahan-bahan tambang tersebut. Memang benar didalam bumi kini masih terjadi pembentukan bahan-bahan tersebut namun pembentukannya sangatlah lambat sehingga apa yang dibentuk berabad-abad lamanya hanya dapat mengimbangi apa yang kita gunakan selama satu tahun, bahkan kemungkinan kurang dari itu (Koentjaraningrat, 1987).
Tentunya kesemuanya ini tergantung pada cara-cara manusia menggunakan kedua jenis sumber daya alam tersebut. Sumber alam biotic dapat terus digunakan atau dimanfaatkan oleh manusia, bila manusia menggunakannya secara bijaksana. Bijaksana dalam penggunaan berarti memerhatikan siklus hidup sumber daya alam tersebut, dan diusahakan jangan sampai sumber daya alam itu musnah. Sebab, sekali suatu jenis spesies dibumi musnah, jangan berharap bahwa jenis tersebut dapat muncul kembali. Seyogianya manusia menggunakan baik sumber daya biotk dan abiotik secara tepat dan bertanggungjawab (Koentjaraningrat, 1987).
Manusia memandang alamnya dengan bermacam-macam kebutuhan dan keinginan. Manusia bergulat dan bersaing dengan spesies lainnya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam hal ini manusia memiliki kemampuan lebih besar dibandingkan organisme lainnya, terutama pada penggunaan sumber –sumber alamnya. Berbagai cara telah dilakukan manusia dalam menggunakan sumber-sumber alam berupa tanah, air, fauna, flora, bahan-bahan galian, dan sebagainya (Koentjaraningrat, 1987).
Menurut Koentjaraningrat, 1987, sumber-sumber alam abiotik meliputi:
1.      Pertanian dan tanah
          Tanah permukaan (top soil) mengandung kadar unsur-unsur bahan makanan yang begitu tinggi dan siap digunakan oleh tanaman. Dengan adanya kemajuan dalam bidang pertanian, penggunaan tanah untu pertanian dapat digunakan secara efisien untuk meningkatkan hasil pertanian. Hasil pertanian tersebut dapat ditingkatkan baik dengan cara memperluas areal pertanian maupun dengan meningkatkan hasil tanah pertanian yang sudah ada. Dibeberapa Negara yang sedang berkembang seperti Thailand, Burma, Malaysia, Filipina, Indonesia masih ada kemungkinan perluasan areal pertanian. Tetapi dalam pelaksanaan sangat lambat karena adanya pertambahan penduduk yanag pesat, banyak tanah-tanah digunakan untuk perumahan, industry, jalan-jalan, dan sebagainya. Dari tahun 1920-1960 Jepang telah kehilangan tanah pertanian rata-rata seluas 49 ribu acre/tahun. Sedangkan dalam intensifikasi pertanian, untuk memperoleh hasil pertanian yang tinggi ditempuh beberapa cara antara lain, mengusahakan panenan lebih dari satu kali pertahun, penggunaan pupuk, irigasi, penggunaan pestisida, dan bibit unggul, serta mekanisasi alat-alat pertanian. Semuanya itu memerlukan modal besar. Adapun panen lebih dari satu kali setahun telah berhasil di Taiwan., Korea, dan Jepang dimana 50%-60% tanah pertanian menghasilkan panen dua kali pertahun. Demikian juga penggunaan pupuk didunia cenderung menigkat terus. Eropa barat yang hanya mempunyai 6% dari seluruh pertanian biji-bijian didunia, telah menggunakan pupuk 10 juta ton pada tahun 1960/1961. Selain itu hama juga dapat dengan mudah dibasmi dengan insektisida, herbisida, dan pestisida. Sedangkan peranan mekanisasi alat-alat pertanian dapat mempertinggi hasil pertanian. Dengan cara-cara tersebutlah manusia selangkah demi selangkah memperbaiki cara-cara bertani dan hasil panen untuk memenuhi kebutuhan bahan pangan yang selalu meningkat.
2.       Hutan
        Kalau kita tinjau dari segi peranan hutan, maka hutan digolongkan kedalam dua golongan yakni: hutan pelindung, merupakan hutan yang sengaja diadakan untuk melindungi tanah dari erosi, kehilangan humus, dan air tanah. Golongan kedua adalah hutan penghasil atau hutan produksi, yaitu hutan yang sengaja ditanami jeni-jenis kayu yang dapat dipungut hasilnya, misalnya hutan pinus, dammar, dan sebagainya.
3.       Air
         Air sebagai salah satu sumber daya alam yang terdapat dimana-mana di bumi, di danau, di lautan, dibawah tanah, dan udara sebagai uap air yang kesemuanya meliputi 4/5 bagian seluruh permukaan bumi. Seyogianya manusia menggunakan air dengan baik dan berusaha mencegahnya dari pencemaran-pencemaran yang mengganggu berjalannya fungsi vital air dalam kehidupan manusia.
   Nampak jelas bahwa pengelolaan lingkungan hidup amatlah luas cakupannya. Secara esensial, bila didasarkan pada asas penyerasian memang demikian, jelas pula bahwa atas dasar itu, upaya kita bukanlah sekedar melestarikan atau mendukung potensi-potensi ekosistem lingkungan. Bahkan bila perlu tidak salah pula untuk meniadakan atau menghancurkan suatu ekosistem tertentu (Siahaan, 2004).
 Menurut Siahaan, 2004, secara terperinci, dapat kiranya disebutkan dibawah ini upaya-upaya pengelolaan lingkungan dengan skala yang begitu luas. Skala tersebut didasarkan pada prinsip penyerasian seperti berikut:
a.     Menjaga, mengawasi dan mempertahankan kemampuan lingkungan. Dalam pengertian tradisionil, cara ini disebut dengan melestarikan lingkungan.
 b.   Meningkatkan kemampuan lingkungan.
 c.    Mengubah lingkungan dengan berbagai kepentingan;
d.   Menciptakan eksistensi lingkungan. Lingkungan hidup juga diciptakan secara baru, sehingga memugkinkan manusia dan makhluk lain memperoleh alternative untuk lebih mengembangkan hidupnya. Misalnya membuat pulau buatan, menciptakan danau buatan, menciptakan pemukiman baru, dan lain-lain.
 e.    Meniadakan lingkungan atau menghancurkan ekosistem tertentu. Ini dapat terjadi bilamana sebuah ekosistem telah sedemikian bahayanya, dimana tidak mungkin lagi untuk dipelihara atau dibiarkan ada, karena akibatnya bisa mengganggu kehidupan manusia. Misalnya sebuah pulau kecil yang merupakan sarang penyakit, dan kaluu dibiarkan akan mewabah dan akan meluas ke daerah lain.
f.   Menyelaraskan, menyesuaikan, atau menciptakan supaya lebih asri. Cara ini dapat dilakukan sesuai dengan keinginan, selera, atau perasaan yang menikmatinya. Misalnya membuat suatu lingkungan supaya lebih artistik (mengandung nilai seni); bersifat estetik (mengandung nilai keindahan) atau bersifat asri (nyaman). Cara ini biasanya dilakukan terhadap kebutuhan-kebutuhan yang bersifat kebudayaan, perkotaan/bangunan rumah dan pekarangannya; pariwisata; pertamanan; kreasi kerajinan tangan dan lain-lain.
g.      Memadukan atau menyesuaikan keadaan yang satu dengan yang lain dari berbagai corak potensi dan ragam-ragam lain. Cara ini dilakukan dengan upaya memindahkan sebagian kemampuan suatu lingkungan yang sudah mapan kepada sebuah lingkungan yang sudah bercorak minus. Melalui cara ini, tercapailah berbagai ekosistem yang lebih mantap.

 B. Ekologi dalam Lingkungan
                    Kata ekologi berasal dari bahasa yunani “oikos” yang berarti rumah atau rumah tangga atau tempat tinggal, dan “logos” yang berarti ilmu. Jadi mempelajari rumah tangga lingkungan, tempat hidup semua organisme seluruh proses-proses fungsional yang menyebabkan tempat hidup itu cocok untuk di diami. Secara harfiah, ekologi adalah ilmu yang mempelajari ”organisme ditempat hidupnya dengan menggunakan pola hubungan timbal balik” antar makhluk hidup dan lingkungannya. Secara tradisional, ekologi biasanya diberi batasan sebagai ilmu yang mempelajari interaksi diantara organisme dalam lingkungannya manusia (Leo, 2010).
Kajian ekologi tidak terlepas dari kajian mengenai sistem makhluk hidup atau biosistem. Biosistem tersusun atas komponen biotic dan abiotik yang meliputi materi, energi,  ruang, waktu, dan keanekaragaman untuk membentuk ekosistem secara utuh (Leo, 2010).
Pada dasarnya ekologi adalah ilmu dasar untuk mempertanyakan, menyelidiki, dan memahami bagaimana alam bekerja, bagaimana keberadaan makhluk hidup dalam sistem kehidupan, apa yang mereka perlukan dari habitatnya untuk dapat melangsungkan kehidupan, bagaimana mereka mencukupi kebutuhannya, bagaimana dengan melakukan semua itu mereka berinteraksi dengan komponen lain dan dengan spesies lain (Leo, 2010).
                   Melihat lingkup-lingkup demikian yang begitu luas, tersangkallah anggapan-anggapan yang memitoskan pembinaan lingkungan dengan cara pelestarian lingkungan. Istilah itu hingga kini masih merupakan istilah yang sukar dilepaskan. Atas dasar ini pula tersangkallah kesan bahwa dengan menggunakan istilah penyerasian dikatakan sebagai bersifat subjektif. Prof. Otto Soemarwoto, misalnya, tidak sependapat kalau istilah keserasian lingkungan dijadikan sebagai asas pengelolaan lingkungan. “Keserasian adalah subjektif” (Siahaan, 2004).
                  Secara garis besar terdapat tiga macam linkungan hidup, yaitu:
a.       Lingkungan fisik
b.      Lingkungan hayati
c.       Lingkungan sosial
                   Ruang lingkup peninjauan lingkungan hidup dapat sempit misalnya sebuah rumah dengan pekarangannya atau luas misalnya Pulau Sulawesi, lapisan bumi yang ada makhluknya (biosfer). Lebih luas lagi yaitu tata surya kita bahkan seluruh alam semesta. Berikut ini terdapat beberapa peraturan pemerintah serta undang-undang yang mengatur  tentang Lingkungan Hidup, sebagai berikut:
a.       Undang-undang RI No. 23 Tahun 1997, tentang Pengelolaan Lingkungan.
b.      Peraturan Pemerintah RI No. 27 Tahun 1999, tentang AMDAL.
c.       Peraturan Pemerintah RI No. 20 Tahun 1990, tentang Pengendalian Pencemaran Air.
d.      Penjelasan atas Peraturan Pemerintah RI No. 20 Tahun 1990, tentang Pengendalian Pencemaran Air (Tim Dosen Pengetahuan Lingkungan, 2008).
C.      Permasalahan yang Timbul dari Kerusakan Lingkungan
        Menurut Koentjaraningrat, 1987, adapun permasalahn yang timbul akibat dari kerusakan lingkungan yaitu :
1.    Masalah Erosi dan Banjir
          Erosi merupakan gejala alamiah dan sering kali pula disebut sebagai erosi geologi. Peristiwa erosi terjadi secara perlahan-lahan terutama terjadi dengan bantuan media air di sungai yang mengikis dasar dan tepi sungai. Peristiwa erosi ini juga dipercepat dengan adanya penggunaan tanah yang tidak tepat oleh manusia. Kita telah menanam tanaman di tempat yang tidak tepat. Sampai saat ini manusia masih terus menebang hutan-hutan yang tidak diimbangi dengan penanaman kembali pohon-pohon yang telah ditebang. Tentunya hal tersebut merugikan bagi lingkungan.
2.    Pencemaran Lingkungan
Sampah-sampah industri pertanian yang menggunakan pupuk buatan telah menyebabkan pencemaran tanah. Sampah-sampah tersebut adalah bahan-bahan kimia yang bila terkumpul dalam jumlah tertentu dapat membahayakan kehidupan melalui tanah di mana pepohonan tumbuh berkembang.
Bahan-bahan pencemar dapat tercampur dengan air dalam banyak cara secara langsung dan tidak langsung. Misalkan melalui pembuangan limbah pabrik, terkena pestisida, dan insektisida yang digunakan manusia dalam pertanian.
Pencemaran udara terjadi saat komponen udara berada dalam jumlah di atas ambang normal dan membahayakan lingkungan, hal tersebut bisa diperoleh dari beragam aktivitas manusia baik sehari-hari maupun dalam produksi dan penggunaan kendaraan bermotor.
Kebisingan yang tejadi di kota-kota besar sebagian akibat dari berbagai jenis suara yang dikeluarkan mesin-mesin atau kendaraan-kendaraan yang jumlahnya semakin meningkat sevara tidak terkontrol. Hal tersebut dalam tingkat tertentu sangat berbahaya bagi manusia karena bisa mengakibatkan ketulian, kebutaan, dan depresi.
Masalah lingkungan global timbul akibat perubahan kondisi lingkungan yang bersifat global. Meskipun penyebabnya mungkin suatu negara tertentu, namun pengaruhnya dapat menjalar keberbagai negara tetangganya. Permasalahan lingkungan global yaitu:
1.    Kerusakan dan menipisnya sumber lingkungan global
                 Antara lain: kerusakan lapisan ozon, kerusakan dan menipisnya    keanekaragaman hayati, pencemaran dan menipisnya sumber daya kelautan.
2.      Kerusakan atmosfer yang berakibat pada perubahan iklim
                  Kerusakan atmosfir terjadi karena meningkatnya konsentrasi karbondioksida (CO2), metan (CH4), klorofluorokarbon (CFC), dan oksida nitrogen (N2O). Kerusakan tersebut menyebabkan terganggunya keseimbangan suhu di bumi sehingga dapat menyebabkan naiknya permukaan air laut.
3.     Kerusakan lapisan ozon
                         Kerusakan ozon disebabkan oleh Ozone Depleting Substances (ODS) yaitu bahan-bahan yang menyebabkan menipisnya lapisan ozon. Penggunaan bahan-bahan ODS terdiri dari CFC-11, CFC-12, CFC-113, CFC-115, halon, trichloroethane (TCE) dan karbon tetraklorida (CCl4). Penggunaan ODS tersebar adalah industri refrigerator (lemari pendingin) dan air conditioning (AC). Pada kondisi yang membahayakan, penipisan lapisan ozon menyebabkan terjadinya lubang-lubang ozon di beberapa tempat, di atas sekitar kutub bumi. Sejak tahu 1987, ketebalan lapisan ozon di tempat-tempat terjadinya penipisan tadi tinggal setengahnya saja. Dari pengukuran yang dicatat oleh satelit NIMBUS-7 sejak tahun 1979, terlihat bahwa daerah penipisan tersebut telah mencapai luasnya sebesar luas Amerika Serikat.
4.    Kerusakan dan menipisnya sumber daya hutan
          Kerusakan hutan tropis akibat eksploitasi yang berlebihan tanpa diimbangi proses reklamasi yang baik telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Di bumi ini, luas hutan tropis berkisar antara 1,79 milyar hektar. Data tahun 80-an menunjukkan bahwa tiap tahunnya luas hutan tropis berkurang 15,4 juta ha.
5.     Menipisnya keanekaragaman hayati
                       Ditingkat global, Indonesia dianggap sebagai salah satu pusat mega “biodiversitas” di dunia dengan 47 jenis ekosistem. Kira-kira 17% dari seluruh spesies yang ada di dunia berada di Indonesia.
6.     Pencemaran dan menipisnya sumber daya kelautan
Potensi kelautan sebagai salah satu pendukung kehidupan diketahui sangat besar. Dengan luasan lebih dari 70% permukaan bumi, laut menjadi komponen utama dari sistem global pendukung kehidupan.
                        Masalah-masalah lingkungan hidup nasional, yaitu sebagai berikut:
1.      Permasalahan lingkungan alam
- Sumber daya lahan
- Sumber daya air
           - Sumber daya hutan
- Keanekaragaman hayati
- Pesisir dan lautan
- Udara
2.      Permasalahan lingkungan buatan
3.      Permasalahan lingkungan sosial  
-        Perubahan pranata
-        Perubahan nilai
-        Keanekaragaman kelompok
-        Kontrol sosial
                             Penyebab masalah lingkungan hidup nasional, adalah:
-        Dinamika penduduk
-        Pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya yang kurang bijaksana
-       Kurang terkendalinya pemanfaatan ilmu penetahuan dan teknologi maju
-       Dampak negatif yang sering timbul dari kemajuan ekonomi yang seharusnya positif
-        Benturan tata ruang (Tim Dosen Pengetahuan Lingkungan, 2008).
          Hal-hal yang ditunjukkan di atas nampaknya banyak kaitannya dengan permasalahan global. Dinamika penduduk terutama disebabkan oleh masih tingginya tingkat pertumbuhan penduduk. Yang lebih menimbulkan permasalahan adalah banyak diantaranya masih dalam keadaan miskin. Pengelolaan sumber daya yang kurang bijaksana menyebabkan kerusakan lingkungan, apalagi ditambah dengan pemanfaatan teknologi maju yang dapat mempercepat eksploitasi sumber daya secara berlebihan. Berbagai permasalahan lingkungan tersebut tidak lepas dari kesalahan konsep pembangunan yang hanya mengandalkan semata-mata pada pertumbuhan ekonomi (Leo, 2010).
Pada dasarnya masalah kependudukan sudah merupakan isu global yang sangat erat kaitannya dengan masalah lingkungan. Dari tahun ke tahun pertumbuhan penduduk semakin meningkat dan menimbulkan berbagai masalah. Untuk memberikan gambaran tentang kondisi perumbuhan penduduk maka perlu diketahui sejarah perkembangan perkiraan jumlah penduduk baik secara Nasional maupun Internasional (Leo, 2010).
        Akibat pertumbuhan penduduk yang makin pesat tersebut akan menimbulkan banyak masalah. Masalah di bidang kependudukan di negara berkembang terdapat kecenderungan perpindahan penduduk secara dramatis dari wilayah pedesaan ke wilayah perkotaan. Kota-kota di negara berkembangan akan menjadi negara besar dan sangat padat oleh penduduk bila kecenderungan ini tidak dicegah atau dikendalikan. Penduduk-penduduk kota yang sangat cepat, wilayah perkotaan negara sedang berkembang ini berarti akan menimbulkan masalah tekanan amat berat terhadap kondisi sanitasi, fasilitas dan pelayanan sosial, serta penyediaan lapangan kerja bagi penduduk kota. Munandar (1990:2) mengemukakan bila jumlah penduduk meningkat, otomatis kebutuhan akan sandang, pangan, dan papan juga meningkat. Sedangkan pertumbuhan atau penyediaan sandang, pangan, dan papan terbatas. Di sini akan terjadi ketidakseimbangan antara jumlah penduduk dan kebutuhannya. Jumlah penduduk yang meningkat memerlukan lahan yang baik untuk pemukiman maupun lahan pertanian sebagai sumber makanan. Dengan memperluas lahan pertanian berarti harus mengorbankan hutan. Hutan yang dijadikan lahan pertanian mengakibatan tumbuh-tumbuhan, binatang, mikroorganisme yang ada di dalamnya akan musnah atau akan berkurang jumlahnya (Leo, 2010).
3.        Masalah Kehutanan
Hutan merupakan kekayaan Indoesiayang tidak ternilai harganya. Sepanjang daerah khatulistiwa, hutan di Indonesia membentang antara satu pulau ke pulau lainnya. Itulah mengapa Indonesia sering disebut Zamrud Khatulistiwa.
Hutan di Indonesia berfungsi sebagai paru-paru dunia karena menyerap karbon doiksida. Fungsi hutan yang lain sebagai pengatur  tata air, iklim, pencegah erosi, penyubur tanah, yempat hidup binatang, dan sebagai tempat menyimpan kekayaan alam yang berupa hasil-hasil hutan. Produksi hasil hutan Indonesia merupakan penyumbang devisa terbesar Negara kedua setekah minyak dan gas bumi. Adapun usaha-usaha yang dilakukan pemerintah untuk meningkatkan produksi hutan antara lain yaitu:
a.    Melarang penebangan kayu tanpa izin dari pemerintah,
b.    Mencabut izin pengusaha HPH yang melanggar peraturan,
c.    Menebang hutan secara selektif,
d.   Melakukan peremajaan tanaman,
e.    Melakukan rehabilitas dan reboisasi areal hutanyang rusak, dan
f.     Melakukan penanaman di lahan kritis.
D.   Hutan Hujan Tropis
        Hutan hujan tropis sangat menarik, merrupakan ekosistem yang klimaks klimatik. Hutan hujan tropis mempunyai vegetasi yang khas daerah tropis basah dan menutupi semua permukaan daratan yang memiliki iklim panas, curah hujan cukup banyak serta terbagi. Pohon-pohon dari komunitas hutan hujan yang beranekaragaman ini tingginya rata-rata 46-55 m adakalanya secara individu dapat mencapai 92 m, denagn bentuk pohon pada umumnya ramping-ramping. Tinggi pohontidak sama, seringkali terdapat 3 lapis pohon-pohon, tetapi kadang-kadang hanya ada dua lapis. Tetumbuhan bawah pada hutan hujan terdiri dari semak, terna dan sejumlah sejumlah anakan serta kecambah-kecambah dar pohon (Zoer’aini, 1992).
        Menurut Zoer’aini, 1992 adapun perbedaan-perbadan yang ditimbulkan dari keanekaragaman keadaan lingkungan perkembanggan hutan tropis yaitu :
1.         Biomossa yang besar di hutan torpik mengubah faktor-faktor, seperti banyaknya sinar, kelembapan, suhu dan keadaan lingkungan yang tetap menjadijumlah yang lebih besar daripada hutan beriklim sedang yang memiliki biosoma yang kecil.
2.         Peerbandingan unsure hara pada vegetasi dengan unsure hara dalam tanah lebih besar pada hutan tropic. Maka masuknya zat hara yang berasal dari pembusukan vegetasi dari bagian-bagian pohon tumbang ataau tumbuhan yang  terimpit, ke dalam tanah lebih besar di daerah tropic.
3.         Pengaruh yang lebih cepat daun-daun yang gugur dan sia-sia bahan organic lainnya di hutan- hutan tropic akan mempercepat pelepasan hara mineral dan sia-sia organic pohon-pohon yang tumbang dan menaikkan pemasukan zat hara ke dalam tanah.
4.         Kandungan humus pada tanah-tanah hutan tropis lebih rendah daripada hutan beriklim sedang walaupun kandungan haranyaa serupa. Kandungan humus mempengaruhi daya untuk mempertahankan kelembapan ttanah, serta stabilitas sifat tanah yang lain, bila terjadi gangguan fisik yan glebih intensif di petak terbuka hutan.
5.         Curah hujan yang lebih besar di daerah tropic menaikkan pencucian hara-hara tertentu dari tanah yang terbuka, dan makin ke tengah hutan, pencucian hara terseebut semakin tinggi.
6.         Di daerah tropic matahari lebih lama berada di atas kepala ddan siang harinya yang lebih panjang dibandingkan daerah beriklim sedang, sehingga cahaya matahari menerrpa tanah daerah terbuka hutan tropic lebih panjang.
    Akibat pertumbuhan penduduk yang makin pesat tersebut akan menimbulkan banyak masalah. Masalah di bidang kependudukan di negara berkembang terdapat kecenderungan perpindahan penduduk secara dramatis dari wilayah pedesaan ke wilayah perkotaan. Kota-kota di negara berkembangan akan menjadi negara besar dan sangat padat oleh penduduk bila kecenderungan ini tidak dicegah atau dikendalikan. Penduduk-penduduk kota yang sangat cepat, wilayah perkotaan negara sedang berkembang ini berarti akan menimbulkan masalah tekanan amat berat terhadap kondisi sanitasi, fasilitas dan pelayanan sosial, serta penyediaan lapangan kerja bagi penduduk kota. Munandar (1990:2) mengemukakan bila jumlah penduduk meningkat, otomatis kebutuhan akan sandang, pangan, dan papan juga meningkat. Sedangkan pertumbuhan atau penyediaan sandang, pangan, dan papan terbatas. Di sini akan terjadi ketidakseimbangan antara jumlah penduduk dan kebutuhannya. Jumlah penduduk yang meningkat memerlukan lahan yang baik untuk pemukiman maupun lahan pertanian sebagai sumber makanan. Dengan memperluas lahan pertanian berarti harus mengorbankan hutan. Hutan yang dijadikan lahan pertanian mengakibatan tumbuh-tumbuhan, binatang, mikroorganisme yang ada di dalamnya akan musnah atau akan berkurang jumlahnya (Leo, 2010).
 Oleh karena itu, setiap pemanfaatan sumber daya alam menurut Sorjani (1995) perlu memperhatikan patokan-patokan sebagai berikut:
1.         Daya guna dan hasil guna yang dikehendaki harus dilihat dalam batas-batas yang optimal sehubungan dengan kelestarian sumber daya alam yang mungkin dicapai.
2.         Tidak mengurangi kemampuan dan kelestarian sumber daya alam lainnya yang berkaitan dalam suatu ekosistem.
3.         Memberikan kemungkinan untuk mengadakan pilihan penggunaan dalam pembangunan di masa depan.
     Sehubungan dengan hal itu, maka pemerintah menggariskan pokok-pokok kebijaksanaan di bidang sumber daya alam dan lingkungan hidup sebagai berikut:
a.         Inventarisasi dan evaluasi sumber daya alam perlu terus ditingkatkan dengan tujuan untuk lebih mengetahui dan dapat memanfaatkan potensi sumber daya alam yang baik di darat, laut, maupun udara berupa tanah, air, energi, flora, fauna, dan lain-lain yang sangat diperlukan bagi pembangunan.
b.         Dalam penelitian, penggalian, dan pemanfaatan sumber daya alam serta dalam pembinaan lingkungan hidup perlu digunakan teknologi yang sesuai dengan pengelolaan yang tepat sehingga mutu dan kelestarian sumber daya alam dan llingkungan hidup dapat dipertahankan, untuk menunjang pembangunan yang berkelanjutan.
c.         Dalam pelaksanaan pembangunan perlu selalu diadakan penilaian yanng seksama terhadap pengaruhnya bagi lingkungan hidup, agar pengamanan terhadap pelaksanaan pembangunan dan lingkungan hidupnya dapat dilakukan sebaik-baiknya. Penilaian tersebut perlu dilakukan secara terpadu, baik sektoral maupun regional dan untuk itu perlu dikembangkan kriteria baku kualitas lingkungan.
d.        Rehabilitasi sumber daya alam berupa hutan, tanah, dan air yang rusak perlu lebih ditingkatkan lagi melalui pendekatan terpadu daerah aliran sungai dan wilayah. Dalam hubungan ini program penyelamatan hutan, tanah, dan air perlu dilanjutkan dan makin disempurnakan.
e.    Pendayagunaan daerah pantai, wilayah laut, dan kawasan udara perlu dilanjutkan dan makin ditingkatkan tanpa merusak dan kelestarian lingkungan hidup (Leo, 2010).
       Dengan mengaitkan mutu lingkungan dengan derajat pemenuhan kebutuhan dasar, berarti lingkungan itu merupakan sumber daya. Dari lingkungan itu kit mendapatkan unsur-unsur yang kita perlukan untuk produksi dan konsumsi. Sebagian dari sumber daya itu dimiliki oleh perorangan dan badan tertentu, misalnya lahan dan sepetak hutan. Sebagian lagi sumber daya itu merupakan milik umum, misalnya udara, sungai, pantai, laut, dan ikan laut. Udara misalnya, kita perlukan untuk menjalankan mesin kita karena dalm udara itu terdapat gas oksigen. Apabila idak ada udara, mesin pun tak dapat berjalan (Siahaan, 2004).
Sumber daya milik umum mempunyai sifat-sifat yang berbeda dari modal yang biasa kita kenal dalam perusahaan yang dimiliki secara pribadi atau badan tertentu. Karena milik umum, orang dapat menggunakannya tanpa pungutan bayaran atau hanya dengan pungutan ringan. Misalnya, orang dapat menghirup udara untuk pernafasan atau menggunakan udara untuk membakar bahan bakar mesin dan mengangkut limbah tanpa bayaran. Kita dapat juga dengan bebas membuat sumur da menggunakan airnya untuk keperluan rumah tangga, menggunakan sungai dan laut untuk pelayaran dan menangkap ikan di sungai dan laut, serta menikmati hawa segar dan pemandangan indah daerah pegunungan. Apabila ikan laut dieksploitasi, laut itu mempunyai daya regenerasi (Siahaan, 2004).
Demikian pula apabila limbah dibuag ke sungai atau laut, sungai dan laut mempunyai daya untuk mengasimilasi limbah tersebut dan membuatnya menjadi tidak mengganggu atau beracun. Sumber daya demikian itu disebut sumber daya terperbaharui. Akan tetapi, sumber daya mempunyai daya regenerasi dan asimilasi yang terbatas. Selama eksploatasi atau permintaan pelayanan ada di bawah batas daya regenerasi atau asimilasi, sumber daya terperbaharui itu dapat digunakan secara lestari. Akan tetapi, apabila batas itu dilampaui, sumber daya itu akan mengalami kerusakan dan fungsi sumber daya itu sebagai faktor produksi dan konsumsi atau sarana pelayanan akan mengalami gangguan (Siahaan, 2004).
      Sumber daya lingkungan milik umum sering dapat digunakan untuk bermacam peruntukan secara simultan, tanpa suatu peruntukan mengurangi manfaat yang dapat diambil dari peruntukan lain sumber daya yang sama itu. Misalnya, air sungai dapat digunakan sekaligus untuk melakukan proses produksi dalam pabrik, mengangkut limbah, pelayaran sungai, produksi ikan, dan keperluan rumah tangga (Siahaan, 2004).
      Faktor lingkungan sebagian membantu dan sebagian lagi merintangi kita untuk mendapatkan kebutuhan dasar kita. Faktor yang membantu untuk mendapatkan kebutuhan dasar itu merupakan manfaat lingkungan dan yang merintangi merupakan risiko lingkungan. Manfaat dan risiko lingkungan itu berupa faktor hayati dan fisik kimia serta dapat bersifat alamiah atau buatan manusia. Misalnya, nyamuk malaria adalah risiko lingkungan yang bersifat hayati dan mata air manfaat lingkungan yang bersifat fisik. Keduanya merupakan faktor alamiah. Racun hama, misalnya DDT, yang mencemari suatu perairan adalah risiko lingkungan yang bersifat kimia buatan manusia(Zoer’aini, 1992).
        Manfaat atau risiko lingkungan dapat tersebar secara aktif dengan kekuatannya sendiri, misalnya dengan terbang atau kekuatan fisiknya. Dapat juga terbawa secara pasif oleh kekuatan tertentu, misalnya arus udara atau air. Nyamuk malaria, misalnya, tersebar dengan terbang, gempa bumi     tersebar dengan kekuatan fisik melalui tanah dan penyakit kolera melalui arus air. Penyebaran itu dapat juga terjadi karena seekor hewan memakan organisme lain, yaitu melalui rantai makanan. Suatu rantai makanan, misalnya, ialah plankton yang hidup dalam air dimakan ikan kecil, ikan kecil ini dimakan ikan yang lebih besar dan ikan yang lebih besar ini ditangkap dan dimakan oleh manusia (zoer’aini, 1992).
        Dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang makin pesat serta dorongan pertumbuhan ekonomi mengakibatkan eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan yang mengakibatkan berbagai kemerosotan SDA dan merosotnya kualitas lingkungan. Oleh karena itu, secara lokal maupun global, lingkungan hidup harus menanggung berbagai kemunduran kualitas lingkungan. Penggunaan dan perkembangan IPTEK menimbulkan akibat sebagai berikut:
1.    Mutasi gen manusia terselubung
        Dengan perkembangan teknologi telah banyak digunakan teknik radiasi  terionisasi serta penggunaan bahan kimia yang bersifat mutagenik, sebagai akibatnya telah terjadi peningkatan mutasi gen manusia yang menyebar diantara populasi manusia secara terselubung dan akan menurun sehingga mengakibatkan semakin merosotnya daya tahan manusia secara alami.
2.    Efek rumah kaca
          Terjadinya efek rumah kaca, yaitu karen meningkatnya lapisan gas terutama karbondioksida yang menyelimuti bumi, gas berasal dari berbagai kegiatan manusia, terutama dalam penggunaan energi fosil (minyak, batu bara, dan gas). Akibat dari efek rumah kaca ini adalah kenaikan suhu bumi atau perubahan iklim secara umum.

3.    Hujan asam
Industri (khususnya penggunaan logam, pembangkit litrik batu bara dan pendidih air) yang melepskan gas Sulfur dioksida dan karbondioksida akan menghasilkan air hujan yang setelah bereaksi dengan gas-gas tersebut berturut-turut mengandung asam sulfat, asam nitrat, dan asam karbonat. Hal ini menyebabkan timbulnya hujan asam yakni air hujan pH di bawah 5,6. Air dengan keasaman seperti ini akan merusak hutan, mengkaratkan benda logam (jembatan, rel kereta api) (Leo, 2010).
       Uraian kedudukan geomorfologi dalam studi lingkungan menunjukkan bahwa semua aspek geomorfologi diperlukan dalam studi lingkungan. Dengan demikian, data geomorfologi yag diperlukan dalam studi lingkungan harus meliputi empat aspek utama geomorfologi tersebut, yaitu: morfologi, proses geomorfologi (termasuk bencana alam yang mungkin terkait) material penyusun bentuk lahan, kronologi, dan dengan lingkugan. Data genesis akan tercermin pada bentuk lahan yang klasifikasinya mendasarkan pada genesis dan data, yang terkait dengan konteks kelingkungan akan tampak pada peta geomorfologi. Data geomorfologi dalam studi lingkungan seharusnya dapat diwujudkan dalam bentuk peta yang disertai dengan perairannya. Berikut ini akan  diperbincankan data geomorfologi yang terkait dalam studi lingkungan (Siahaan, 2004).
                     Atas dasar dua contoh tersebut dapat diketahui bahwa setiap satuan bentuk lahan memiliki karakteristik tertentu. Karakteristik tersebut selalu menjadi pertimbangan dalam melakukan kegiatan yang terkait dengan lahan. Lahan yang terkena suatu kegiatan, salah satu dari tipe relief atau tipe batuan/material penyusun atau kedua-duanya akan mengalami perubahan. Perubahan dari faktor penciri bentuk lahan tersebut akan mengakibatkan proses geomorfologi yang umumnya mempunyai kecenderungan untuk meningkat. Karena data bentuk lahan tersebut untuk dujadikan bahan pertimbangan dalam melakukan kegiatan, maka harus diwujudkan dalam bentuk peta, yaitu peta geomorfologi yang didalamnya mengandung unsur bentuk lahan (Siahaan, 2004).
     Dalam upaya mengatasi masalah lingkungan yang diakibatkan oleh pemanfaatan teknologi maka perlu  penerapan etika lingkungan agar sumber daya alam masih dapat dimanfaatkan di masa datang. Untuk itu, perlu dipahami konsep tentang etika lingkungan agar dengan mudah kita menerapnya. Etika adalah sallah satu cabang dari filosofi. Etika didefinisikan untuk melihat apakah sesuatu itu benar atau salah, dengan tidak memperhatikan dari perbedaan-perbedaan dari kebudayaan. Sebagai contoh, untuk kebudayaan dan merasa bahwa semua individu mempunyai kesempatan untuk hidup. Hal ini ditetapkan untuk menghargai harga diri suatu individu dalam kehidupannya (Leo, 2010).
     Moral dikontribusikan dari etika, karena moral merefleksikan perasaan yang dominan dari kebudayaan tentang kebudayaan etika. Sebagai contoh, tidak etisnya seorang membunuh orang lain. Meskipun demikian, pada saat suatu negara mengumumkan perang, kebanyakan dari masyarakat dapat menerima kebolehan membunuh musuh-musuhnya. Karena itu moral yang dapat dikerjakan meskipun etika membunuh itu salah. Pandangan lingkungan juga termasuk suatu penetapan nilai etika dan moral. Sebagai contoh, saling membantu sesama manusia bilamana suatu tempat mempunyai kelebihan pangan maka tidak etis di tempat lain menderita kelaparan. Bisa terjadi ada yang tidak merasakan sesuatu kewajiban untuk bersama-sama dengan tempat lain berada di dunia ini. Dalam kenyataan ketidaksamaan kemampuan memunculkan akibat suatu negara menderita kelaparan tadi. Dan di sini moral hanya menjadi suatu hal yang tidak konsisten dengan kebenaran etis yang murni itu. Menurut tahapannya, etika lingkungan dapat berwujud dalam lima tingkatan berikut:
1.         Egoisme, yang berdasarkan kelakuan tetapi selama dia sadar akan ketergantungannya pada yang lain maka seorang egois dapat berperan serta dalam pengelolaan lingkungan, egoisme juga dapat disebut individualisme atau lebih tepat lagi self confidence.
2.         Humanisme, solidaritas terhadap sesama manusia.
3.         Sentientisme, kesetiakawanan terhadap pengada insani yang berperasaan.
4.         Vitalisme, kesetikawanan terhadap sesama insani, terutama ciptaan yang tidak berperasa, misalnya tumbuhan.
5.         Altruisme, tingkatan terakhir dari etika lingkungan yakni solidaritas terhadap semua makhluk hidup sebagai sesama ciptaan Tuhan di bumi ini.


BAB III
METODE PELAKSANAAN PRAKTIKUM
A.      Lokasi Praktikum
Tempat dilaksanakannya praktek lapangan di Kecamatan Tombolopao Kabupaten Gowa, adapun lokasinya yaitu di desa kanreapia.
B.       Alasan Pemilihan Lokasi
Alasan kami memilih Desa Kanreapia sebagai tempat untuk melakukan praktek lapang adalah karena kami ingin mengetahui seperti apa sebenarnya keadaan lingkungan wilayah atau daerah tersebut daripada hanya mendengar ceita-cerita dari teman-teman dan sekaligus ingin membuktikan apakah benar di desa tersebut cuaca atau iklimnya sangat dingin daripada di Malino.
C.      Waktu pelaksanaan praktikum
Praktik lapang dilaksanakan pada :
Hari / Tanggal      : Jumat-Minggu, 17 s.d 19 desember 2010
Pukul                    : 14.00 - selesai WITA
D.      Alat Dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan dalam kegiatan praktikum lapang ini, dapat dilihat pada tabel berikut
Alat dan Bahan
Kegunaan
Kuesioner
Kuesioner ini digunakan oleh mahasiswa agar mahasiswa dapat lebih mudah memberikan pertanyaan kepada masyarakat sekaligus memperoleh data yang diinginkan.
1.      Kertas
Untuk menuliskan pertayaan-pertanyaan tambahan yang akan diberikan kepada masyarakat pada saat berada dipraktek lapang. Serta untuk menulis laporan sementara.
2.      Pensil atau pulpen
Sebagai alat tulis untuk menuliskan hal-hal atau hasil yang didapatkan dari lapangan.
3.      Kamera
Sebagai alat yang dipergunakan dalam memperoleh data yang berupa foto-foto dari responden dan lokasi praktek.
4.      Masyarakat
Sebagai narasumber/sampel data

E.       Teknik Pelaksanaan Praktikum
Dalam hal ini atau dalam pelaksanaan prakrikum ini kami mengelompokkan prakrikum atau penelitian ini menjadi dua jenis, yaitu penelitian kualitatif dan kuantitatif. Metode kualitatif yang kami gunakan adalah melakukan wawancara terhadap orang-orang yang kami anggap memiliki informasi mengenai objek penelitian kami. Selain itu, kami juga menggunakan metode kuantitatif dengan menganalisis data-data kependudukan yang kami peroleh dari wawancara.
F.       Teknik Pengambilan Data
1.    Wawancara, metode wawancara merupakan serangkaian proses interaksi dan komunikasi, dengan informannya yaitu penduduk desa Kanreapia. Interaksi terjadi dengan cara tanya dengan responden, dimana pertanyaan yang diberikan sesuai dengan kuesioner yang diberikan oleh asisten lapangan. Selain itu, responden juga dipilih yang hanya berumur di atas 15 tahun dengan maksud agar informasi yang didapatkan lebih akurat.

2.    Observasi
Dilakukan dengan mengadakan pengamatan secara langsung terhadap objek yang diamati. Dimana mengamati secara langsung kegiatan sehari-hari penduduk.

G.      Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang dilakukan dalam praktikum ini adalah membuatnya menjadi suatu bentuk laporan praktikum lapangan. Dalam pembuatan laporan ini, mahasiswa menggunakan model analisis data dalam bentuk tabulasi data.
Analisis data deskriptif: yaitu dengan cara menghitung persentase serta menjelaskan data dengan angka yang telah diperoleh sesuai dengan ketentuan. Kemudian hasil perhitungan analisis itu disesuaikan dengan teori yang telah ada dan dijadikan laporan dalam bentuk tertentu agar lebih mudah menggambarkan hasil penelitian.



BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.    Hasil Praktikum
Tabel 1. Karakteristik Responden Berdasarkan Umur
No.
Umur
Jumlah
Persentase (%)
1.
> 35 Tahun
6
40%
2.
Antara 35-45 Tahun
5
33,3%
3.
< 45 Tahun
4
26,7%

Jumlah
15
100%
Sumber data: Hasil olah data kuisioner pengetahuan lingkungan, tanggal 18 Desember 2010
Tabel 2. Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan
No.
Pekerjaan
Jumlah
Persentase (%)
1.
Tukang (batu, kayu, dll)
2
13,3%
2.
Pegawai Negeri Sipil
-
0%
3.
ABRI/POLRI
-
0%
4.
Pegawai Negari Swasta
1
6,7%
5.
Pedagang
4
26,7%
6.
Petani
8
53,3%
7.
Dll
-
0%

Jumlah
15
100%
Sumber data: Hasil olah data kuisioner pengetahuan lingkungan, tanggal 18 Desember 2010
Tabel 3. Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan
No.
Tingkat Pendidikan
Jumlah
Persentase (%)
1.
Tidak Tamat SD
6
40%
2.
Tamat SD
7
46,67%
3.
Tidak Tamat SMP/Sederajat
-
0%
4.
Tamat SMP/Sederajat
1
6,7%
5.
Tamat SMA/Sederajat
1
6,7%
6.
Sarjang Muda
-
0%
7.
Sarjana
-
0%

Jumlah
15
100%
Sumber data: Hasil olah data kuisioner pengetahuan lingkungan, tanggal 18 Desember 2010
Tabel 4. Karakteristik Responden Menurut Tingkat Pendapatan
No.
Tingkat Pendapatan
Jumlah
Persentase (%)
1.
> Rp 1.000.000
12
80%
2.
Antara Rp 1.000.000- Rp 2.000.000
3
20%
3.
< Rp 2.000.00
-
0%

Jumlah
15
100%
Sumber data: Hasil olah data kuisioner pengetahuan lingkungan, tanggal 18 Desember 2010
Tabel 5. Jumlah Anggota/Anak Yang Dimiliki
No.
Jumlah Anggota/Anak Yang Dimiliki
Jumlah
Persentase (%)
1.
> 2 orang
4
26,67%
2.
Antara 3-4 orang
4
26,67%
3.
< 5
7
46,67%

Jumlah
15
100%
Sumber data: Hasil olah data kuisioner pengetahuan lingkungan, tanggal 18 Desember 2010
Tabel 6. Kegiatan Sosial Yang Sering Dilakukan
No.
Kegiatan Sosial
Jumlah
Persentase (%)
1.
Rapat-2 Kampung/Desa
12
80%
2.
Pesta Kawin
2
13,33%
3.
Arisan
-
0%
4.
Dll
1
6,7%

Jumah
15
100%
Sumber data: Hasil olah data kuisioner pengetahuan lingkungan, tanggal 18 Desember 2010
Desa Kanreapia merupakan salah satu wilayah dari daerah dari Tombolopao dan merupakan ujung dari kota Malino. Didesa ini mayoritas penduduknya adalah petani. Suhu didaerah ini sangat rendah sehingga udaranya sangat dingin karena itulah, kebanyakan dari masyarakat didesa ini bekerja sebagai petani. Hasil pertaniannya adalah  berupa sayur-sayuran, buah-buahan maupun daun-daunan misalnya labu siam, kangkung, dan sebagainya.
 Gambar 1: Dataran tinggi Malino
Ditinjau dari segi ekonominya masyarakat disini tergolong mapan walaupun mayoritas penduduknya ialah petani. Namun, petani disini tergolong petani sukses, hal ini didukung oleh tingkat kesuburan tanah yang dimiliki didaerah ini.. selain itu masyarakat di desa ini sangat giat bekerja. Hal ini ditinjau dari keseharian dari masyarakat didesa ini.
Disepanjang jalan menuju desa kanreapia banyak dijumpai  tanaman yang merupakan tanaman khas dari daerah pegunungan misalnya daun bawang, hutan pinus, kebun tomat, dan sebagainya.
 
Gambar 2: Salah satu kebun bawang di desa Kanreapia
 Gambar 3: Hutan pinus
Lokasi hutan pinus ini mempunyai ketinggian ± 1400m diatas permukaan laut,hutan ini merupakan hutan homogen. Adapun fungsi hutan pinus yang ada di malino adalah sebagai tempat rekreasi (wisata), hutan lindung, sumber ekonomi bagi masyarakat yang ada di sekitarnya, dan menyerap air sehingga mencegah terjadinya erosi, banjir, dan longsor.
Dilihat dari pekerjaan masyarakat didesa Kanreapia ini, mereka sangat jarang mengenyam pendidikan bahkan ada yang belum pernah mengenyam yang namanya pendidikan. Walaupun ada yang hanya sampai SD, SMP, SMA, bahkan ada yang tidak pernh mengenal yang ketiga-tiganya.
Berbicara soal lapangan kerja didaerah ini sangat banyak dengan adanya sawah, perkebunan, dan lain-lain yang bisa menjadi lahan kerja bagi penduduk asli daerah tersebut. Kebanyakan masyarakat didesa tersebut merupakan pendatang dari berbagai daerah misalnya bugis dan sekitarnya, bahkan ada yang berasal dari luar daerah misalnya jawa, kalimantan, dll.
Menurut para responden yang telah kami wawancarai, mereka  mengatakan bahwa di desa tersebut tidak pernah terjadi bencana alam maupun peristiwa-peristiwa  dalam menjaga keamanan, kenyamanan, maupun, kelestarian lingkungnnya. Didaerah tersebut sangat jarang dilakukan yang namanya pengrusakan lingkungan, misalnya penebangan hutan secara liar. Adapun yang menebang pohon karena atas dasar kepemilikan pribadi atas pohon tersebut.
Interaksi sosial antara sesama masyarakat didesa tersebut sangat baik ditunjukkan dengan adanya kebersamaan disetiap kegiatan yang dilakukan, misalnya gotong royong. Menurut para responden didaerah tersebut menyatakan bahwa hal ini didukung oleh kesadaran dari masing-masing pihak atau warga setempat didaerah tersebut. Hal yang mendukung kelancaran interaksi sosial tersebut ialah bahasa yang digunakan oleh masyarakat didaerah tersebut, yaitu bahasa konjo makassar. Bahas ini merupakan bahasa sehari-hari mereka karena mayoritas dari penduduknya adalah makassar  asli. Adapun warga pendatang berasal dari luar sulawesi misalnya jawa dan sunda. Kedatangan mereka di desa tersebut bukan hal yang lain, selain untuk membuka usaha misalnya warung bakso, dan berdagang.
B.       Pembahasan
  Pada studi lapangan pengetahuan lingkungan kami melakukan wawancara di Desa Kanreapia, Kecamatan Tombolopao, Kabupaten Gowa. Kami ditugaskan untuk bersosialisasi dengan masyarakat disekitar desa tersebut. Kami mendatangi 15 rumah penduduk dan mengajukan pertnyaan tentang identitas serta lingkungan disekitar desa Kanreapia.
Berdasarkan dari data yang kami peroleh kebanyakan warga disini berpropesi petani. Dari 15 warga yang kami data, data yang berpropesi sebagai petani ada 8 orang dengan persentase 53,3 % ini disebabkan karena tanah di derah desa kanreapia merupakan tanah yang subur dan jauh dari perkotaan oleh sebab itu kebanyakan penduduk di daerah ini yang berpropesi sebagai petani, sedangkan yang lainnya merupakan pedagang pegawai swasta. Dari 15 rumah warga yang kami data yang berpropesi sebagai sebagai pedagang ada 4 orang dengan persentase 26,7 %, sedang yang berpropesi sebagai tukang ada 2 orang dengan persentase 13,3 %, dan yang berpropesi sebagai pegawai swasta ada 1 orang dengan persentase 6,7 %.
Dari pekerjaan responden kami mendapatkan data tingkat pendapatan responden kebanyakan yang berpropesi sebagai petani, tukang batu dan 2 pedagang yang tingkat pendapatannya kurang dari 1 juta per bulan dengan persentase 80 % ini dikarenakan kenamyakan penduduk yang kami wawancarai berpropesi sebagai petani,tukang batu dan pedagang serta pekerjaan yang dominan di desa ini yaitu petani,pedagang dan tukang batu,  sedangkan 2 orang yang berpropesi pedagang dan 1 orang berpropesi pegawai swasta mempunyai tingkat pendapatan antara Rp. 1.000.000-2.000.000 per bulan dengan persentase 20%.
Dari data yang kami peroleh dari 15 rumah warga yang kami wawancarai dengan 6 orang yang berumur kurang dari 35 tahun dengan jumlah persentase 40 % ini karena dari 15 rumah penduduk yang kami datangi kebanyakan yang masih berumur kurang dari 35 tahun yaitu 26 sampai 27 tahun daripada yang berumur antara 35-45 tahun keatas. Warga yang berumur antara 35-45 tahun berjumlah 5 orang dengan persentase 33,3 %, dan warga yang berumur lebih dari 45 tahun berjumlah 4 orang dengan persentase 26,7 %.
Disini tingkat pendidikan warga masih rendah  dari 15 warga yang kami data yang tidak tamat SD ada 6 orang dengan persentase 40 % ini karena keinginan dari warga itu sendiri untuk berhenti sekolah dan memutuskan untuk membantu orang tuanya berkebun, warga yang tamat SMP ada 1 orang dengan persentase 6,7 % dan yang tamat SMA ada 1orang dengan persentase 6,7 %.
Jumlah anggota keluarga yang tinggal di 15 rumah warga adalah 4 orang untuk anggota keluarga yang kurang dari 2 orang anggota dengan persentase 26,67 %, sedangkan jumlah anggota keluarga antara 3-4 orang adalah 4 orang dengan persentase 26,67 %, sedangkan jumlah anggota keluarga lebih dari 5 orang berjumlah 7 orang dengan persentase 46,67 %, ini karena mereka tinggal serumah dengan orang tua, menantu, cucu, serta anak-anaknya.
Kegiatan sosial yang sering dilakukan oleh masyarakat sekitar adalah rapat-rapat kampung atau desa. Kami mendapatkan data ini karena 12 warga yang didatangi rumahnya dari 15 rumah mengatakan hal tersebut. Dari 2 warga mengatakan di kampung ini sering diadakan pesta nikah / sunatan (syukuran). Selain itu seorang warga mengatakan bahwa didaerah ini pernah diadakan perlombaan kebersihan antar desa yang diadakan oleh kecamatan sebagai bentuk partisipasi pemerintah. Kegiatan sosial yang sering dilakukan yaitu rapat-rapat kampung atau desa ini dilakukan untuk lebih mempererat hubungan persaudaraan di desa itu.



BAB V
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat kami tarik dari hasil pengamatan maupun penelitian dilapangan yang telah dilakkan beberapa waktu yang lalu, antara lain:
1.      Struktur tanah didesa Kanreapia bermacam-macam dan lahan di daerah tersebut sangat subur karena dipengaruhi oleh suhu yang cukup mendukung sehingga hasil-hasil pertaniannya pun sangat berlimpah.
2.      Dengan mata pencaharian sebagai petani atau pekebun dapat dikatakan bahwa kehidupan masyarakat di Desa Kanreapia cukup mapan meski dengan mata pencaharian sebagai petani tetapi penghasilan mereka cukup atau bahkan lebih untuk keperluan keluarga.
B.     Saran
           Berdasarkan praktikum lapangan yang telah dilakukan, maka kami dapat memberikan saran, bahwa:
1.         Sebaiknya para masyarakat lebih menjaga dan memanfaatkan lahan yang ada yang dapat menghasilkan suatu lahan pekerjaan bagi masyarakat setempat.
2.         Sebaiknya pemerintah setempat lebih memperhatikan lagi masyarakat serta lingkungan di daerah Kanreapia tersebut.



DAFTAR TABEL
No.
Tabel                                                                           
Halaman

1
2
3
4
5

6


Tabulasi Responden Menurut Kelompok Umur
Tabulasi  Responden Menurut Pekerjaan
Tabulasi Responden Menurut Tingkat Pendidikan Responden
Tabulasi Responden Menurut Tingkat Pendapatan Responden
Tabulasi Responden Menurut Jumlah Anggota/Anak yang dimiliki
Tabulasi Responden Menurut Kegiatan Sosial yang Sering dilakukan
           24
           24
           24
           25
           25

           25







DAFTAR GAMBAR
No.
Gambar  
Halaman

1
2
3





Dataran tinggi malino
Kebun bawang
Hutan pinus



          28
          29 
          30 
          
          
      
LAMPIRAN
Gambar 6:   Kebun bawang.





HALAMAN PENGESAHAN
Judul Laporan Prakter lapangan         : Pengetahuan Lingkungan
Nama                                                   : Heriyanto
Nomor Induk Mahasiswa (NIM)        : 101304009
Jurusan/Program                                  : Kimia/Pend.Kimia
Fakultas                                              : Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam    
Universitas                                          : Universitas Negeri Makassar (UNM)


Makassar, 6 Januari 2011


Disetujui oleh:


Dosen                                                                               Asisten
Koordinator Praktek Lapangan,                                                        Lapangan
     Pengetahuan Lingkungan


Hasriyanti, S.Si.M.Pd                                                                Satriah    
NIP. 198205242009122004                                                       NIM. 071504027


Dosen penanggung Jawab
Mata Kuliah Pengetahuan Lingkungan


Drs. M. Nur Zakariah Leo, M.Si.
NIP. 196202281990031001

No comments:

Post a Comment